Selasa, 21 Agustus 2018

Oleh : Safrudin Salem

 

A. Pendahuluan

Dalam kegiatan belajar mengajar, salah satu kemampuan dan keahlian professional utama yang harus dimiliki oleh para pendidik  adalah kemampuan bidang pendidikan dan ketenaga pengajaran, khususnya terkait dengan model-model pembelajaran. Dalam karya ilmiah ini diuraikan beberapa model-model pembelajaran secara umum yaitu: (1) Expository teaching, (2) Student active learning, (3) Interactive learning, (4) Inquiry, (5) discovery, (6) problem solving, (7) Contextual teaching and learning.Karya ilmiah ini dibuat dengan metode studi pustaka, dianalisis secara deskriptif, komparatif, dan kritis reflektif.

Mengajar adalah perbuatan yang kompleks. Perbuatan yang kompleks dapat diterjemahkan sebagai penggunaan sejumlah komponen secara integrative yang terkandung dalam perbuatan mengajar itu untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Sejalan dengan semakin kompleksnya kompetensi yang ingin dicapai melalui pendidikan jasmani, maka tuntutan terhadap pendekatan pembelajaran yang digunakan harus canggih. Dalam sejarah pembelajaran pendidikan jasmani, dikenal banyak ragam pendekatan dimulai dari yang paling sederhana (tradisional) disebut metode lalu berkembang menjadi istilah strategi, lalu berkembang lagi menjadi istilah gaya gaya mengajar, pendekatan (approach) dan yang paling modern sering disebut dengan model-model (Matzler, 2000).

Dalam kaitan dengan proses pembelajaran ada baiknya tenaga pengajar menggunakan protipe dari model. Disebut model karena hanya merupakan garis besar (pokok-pokok) yang memerlukan pengembangan yang sangat situasional. Dalam studi pengembangan pembelajaran, model mendapat perhatian khusus. Secara umum istilah model diartikan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan. Fred Percipel dalam Hamalik, 2002, menyatakan bahwa “model is a physical or conceptual representation of an objek or system, incorporating certain specific features of the original”. Maksud dari pernyataan tersebut, model adalah suatu penyajian fisik atau konseptual dari suatu objek atau system yang mengkombinasikan/menyatukan begian-bagian khusus tertentu dari objek aslinya. Jadi model bukan merupakan bentuk asli, tetapi berupa rancangan yang terdiri dari banyak reproduksi. Selain itu Briggs 1995 dalam Harjanto 2006 menjelaskan bahwa “model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media dan evaluasi”. Lebih lanjut Rogers , dalam Hamalik (2002: 2) menjelaskan “…the models may be conceptual and consist of word desdription of drawing.physical models that consist of rel object that process some of the characteristic of the real thing”. Masih ada pendapat lain mengenai model, yaitu menurut Mills (1989: 4) adalah bentuk representasi akurat, sebagai proses actual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu.

Hal ini disebabkan karena suatu model disusun dalam upaya mengkongkretkan keterkaitan hal-hal abstrak dalam suatu skema, bagan, gambar atau tabel. Dengan mencermati model, maka dapat terbaca uraian tentang banyak hal dalam sebuah pola yang mencerminkan alur piker dan pola tindakan. Secara menyeluruh model dapat dimaknai sebagai suatu objek atau konsep yang digunakan untuk mempresentasikan sesuatu hal, sesuatu yang nyata dan dikonversi untu sebuah bentuk yang lebih komprehensif. (Mayer, 1985).

Dalam konteks pembelajaran, model adalah suatu penyajian fisik atau konseptual dari system pembelajaran, serta berupaya menjelaskan keterkaitan berbagai komponen system pembelajaran ke dalam suatu pola.kerangka pemikiran yang disajikan secara utuh. Suatu model pembelajaran meliputi keseluruhn system pembelajaran yang mencakup komponen tujuan, kondisi pembelajaran, proses belajar-mengajar dan evaluasi hasil pembelajaran.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model sering digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih banyak tentang gejala-gejala. Hal ini sesuai dengan fungsi model yang bersifat mencari. Seringkali model juga mempunyai fungsi menerangkan atau melukiskan belaka.menerangkan atau melukiskan tentunya tidak akan sempurna karena keterbatasan model. Model menjelaskan tentunya tidak kan smpurna karena keterbatasan suatu model. Model dapat berupa skema, gambar, bagan atau tabel. Model menjelaskan keterkaitan berbagai komponen dalam suatu pola pemikiran yang disajikan secara utuh, konsisten dan menyeluruh.

 

B. Pembahasan

Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, model pembelajaran  memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi para peserta duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Sedangkan model pembelajaran langsung peserta duduk berhadap-hadapan dengan tenaga pengajar.

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum dsbnya (Joyce, 1992). Selanjutnya Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Soekamto dkk dalam Nurulwati (2000) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah “kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merancanakan aktivitas belajar mengajar”. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi tenaga pengajar untuk mengajar.

Menurut Joyce & Weil (1992) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran dikelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para tenaga pengajar boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efesien untuk mencapai tujuan pendidikan.

Berdasarkan pendapat-pendapat yang menjelaskan mengenai model pembelajaran di atas, maka model pembelajaran harus diperhatikan hal-hal berikut:

1.      Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh tenaga pengajar. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

2.      Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar (Burden & Byrd, 1999).

3.      Model pembelajaran adalah rancangan yang dibuat oleh tenaga pengajar untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan atau nilai-nilai baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahap rencana, pelaksanaan dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar. (Knirk & Gustafon, 2005).

4.      Model pembelajaran adalah suatu pegangan praktis dalam pengelolaan pengajaran di kelas. Model itu mencakup semua komponen pokok yang harus dipertimbangkan dan diatur oleh tenaga pengajar. (Winkell, 1991).

5.      Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan fungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para tenaga pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. (Udin Winataputra, 1994).

6.      Model pembelajaran adalah sekumpulan strategi mengajar yang digunakan tenaga pengajar agar peserta saling membantu dalam mempelajari sesuatu. (Edgen &Kauchak, 1993:319).

7.      Model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode dan teknik pembelajaran. (Dedi Supriawan & A., Benyamin S, 1990).

8.      Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau tutorial untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum, dll (Joyce & Weil, 1992). Selanjutnya Joyce & Weil menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan tenaga pengajar dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

9.      Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode atau prosedur pembelajaran.istilah model pembelajaran mempunyai empat cirri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi/metode pembelajaran, yakni : (1) rasional teoretis, logis yang disusun oleh tenaga pengajar, (2) tujuan pembelajaran yang akan dicapai, (3) langkah-langkah mengajar yang diperlukan dengan menerapkan model yang baik agar pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal, (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

10.  Model pembelajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksisnya, lingkungannya, dan system pengelolaannya. Selain itu dijelaskan pula bahwa model pembelajaran merupakan langkah yang digunakan dan mekanisme untuk kegiatan pembelajaran juga sebagai acuan pelaku pendidikan agar tercapai tujuan yang ingin dicapai.

Dalam prakteknya, yang harus diingat oleh tenaga pengajar adalah tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk diterapkan dalam proses pembelajaran, namun model pembelajaran akan menjadi tepat jika memperhatikan kondisi peserta, sifat materi/bahan ajar, fasilitas sarana dan prasarana, dan kondisi tenaga pengajar itu sendiri.

Dalam pembelajaran tenaga pengajar diharapkan mampu  memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan  Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya  pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil peserta bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh peserta dan tenaga pengajar.

Ketika tenaga pengajar sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali peserta menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikanpermasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara peserta-peserta. Dalam model pembelajaran ini tenaga pengajar memandu peserta menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; tenaga pengajar memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Tenaga pengajar menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh peserta.

Selain itu juga, model-model pembelajaran memiliki fungsi tidak hanya untuk mengubah perilaku peserta sesuai dengan yang diharapkan, tetapi juga berfungsi untuk mengembangkan berbagai berbagai aspek yang bersangkutan dengan proses pembelajaran. Selain itu model pembelajaran bermanfaat untuk menyusun rencana pendidikan peserta, akrena memungkinkan kegiatan sesuai dengan kebutuhan peserta.

Dalam penerapannya, model-model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangannya, yaitu; Kelebihan model pembelajaran dilihat dari aspek peserta, adalah memberi peluang kepada peserta agar mengemukakan dan membahas suatu pandangan, pengalaman, yang diperoleh peserta belajar secara bekerja sama dalam merumuskan ke arah satu pandangan kelompok (Cilibert-Macmilan, 1993). Dengan melaksanakan model pembelajaran cooperative learning. peserta memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, di samping itu juga bisa melatih peserta untuk memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir (thinking skill) maupun keterampilan sosial (social skill) seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, menerima saran dan masukan dari orang lain, bekerjasama, rasa setia kawan, dan mengurangi timbulnya perilaku yang menyimpang dalam kehidupan kelas (Stahl 1994). Model pembelajaran ini memungkinkan peserta untuk mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan secara penuh dalam suasana belajar yang terbuka dan demokratis. Peserta bukan lagi sebagai objek pembelajaran namun bisa juga berperan sebagai tutor bagi teman sebayanya. Selanjutnya menurut Sharan (1990), peserta yang belajar dengan mengunakan metode pembelajaran koperatif akan memiliki motivasi yang tinggi karena didorong dan didukung dari rekan sebaya. Cooperative learning juga menghasilkan peningkatan kemampuan akademik, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, membentuk hubungan persahabatan, menimba berbagai informasi, belajar menggunakan sopan-santun, rneningkatkan motivasi peserta memperbaiki sikap terhadap sekolah dan belajar mengurangi tingkah laku yang kurang baik, serta membantu peserta dalam menghargai pokok pikran orang lain (Johnson, 1993).

Sedangkan kekurangan model pembelajaran, yaitu; Kekurangan model pembelajaran cooperative learning bersumber pada dua faktor yaitu faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern). Faktor dari dalam yaitu sebagai berikut: 1) Tenaga pengajar harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikran dan waktu;    2) Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai; 3) Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas. Sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan; 4) Saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan peserta yang lain menjadi pasif.

 

C. Penutup

Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para tenaga pengajar sangat beragam. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat di capai dengan lebih  efektif dan efisien.

Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks  (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu peserta mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat.

 

 

Daftar Pustaka

Hamalik, Oemar, 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Harjanto, 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Joyce, Bruce & Marsha Weil, 1992. Models of Teaching. USA: Allyn and Bacon

Matzler, 2000. Introduction to Information Retrieval. Cambridge University Press.

Nurulwati, 2000. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan. Model Pembelajaran. Bandung: Pedagogina. Press.