Selasa, 21 Agustus 2018

Oleh :  Hanafi Pelu

 

A.  Latar Belakang

Pendidikan merupakan proses yang kompleks, namun kompleksitasnya selalu seiring dengan perkembangan manusia. Melalui pendidikan pula berbagai aspek kehidupan dikembangkan melalui proses belajar dan pembelajaran. Berbagai masalah dalam proses belajar perlu diselaraskan dan distabilkan agar kondisi belajar tercipta sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai serta dapat diperoleh seoptimal mungkin. Untuk melengkapi komponen belajar dan pembelajaran di sekolah, sudah seharusnya tenaga pengajar memanfaatkan media atau alat bantu yang mampu merangsang pembelajaran secara efektif dan efisien.

Peningkatan kualitas pelatihan menjadi tugas dan tanggung jawab tutor/widyaiswara, karena merekalah yang akan langsung membina para peserta di tempat atau lembaga-lembaga pelatihan melalui proses belajar mengajar. Belajar mengajar sebagai suatu proses merupakan system yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang saling berinteraksi di dalamnya. Komponen-komponen tersebut yaitu Tujuan, Materi, Kegiatan Belajar Mengajar, Alat atau Media dan Evaluasi.

Belajar dapat diartikan sebagai proses kegiatan yang membuat perubahan kognitif maupun motorik melalui interaksi. Belajar juga dapat diartikan sebagi proses perubahan tingkah laku. Dari segi psikologi perbedaan individu ditimbulkan oleh berbagai macam aspek baik secara langsung atau tidak langsung yang timbul dari peserta. Adapun aspek-aspek tersebut, yaitu; kognitif (pengetahuan), afektif (kemampuan), dan psikomotor (keterampilan), tidak ketinggalan juga termasuk intelegensia, minat, bakat dan keadaan sosial ekonomi.

Kemajuan teknologi membuat manusia secara sengaja atau tidak sengaja telah dan akan berinteraksi terhadap teknologi. Manfaat aktivitas dalam pembelajaran yang disebabkan oleh kemajuan ilmu dan teknologi adalah agar peserta dapat mencari sendiri dan langsung mengalami proses belajar. Belajar yang dimaksud berupa pembelajaran yang dilaksanakan secara realistik dan kongkrit, sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindari terjadinya verbalisme yang terus-menerus. Penyampaian materi ajar yang tidak bervariasi dapat menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Dengan adanya variasi dalam pembelajaran diharapkan peserta dapat berbuat sendiri yang pada akhirnya akan mengembangkan seluruh aspek pribadi. Peserta belajar dan bekerja berdasarkan minat dan kemampuan, sehingga dapat bermanfaat dalam rangka peningkatan potensi individu.

Berkenaan dengan unsur-unsur yang terdapat dalam pembelajaran guna mendukung proses belajar, maka dibutuhkan suatu alat bantu atau media belajar s bagai sarana pendukung, selain tranformasi belajar secara konvensional atau tatap muka (ceramah) di dalam kelas. Penggunaan alat bantu atau media pembelajaran merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dan sudah merupakan suatu integrasi terhadap metode belajar yang dipakai. Alat bantu belajar termasuk salah satu unsur dinamis dalam belajar. Kedudukan alat bantu memiliki peranan yang penting karena dapat membantu proses belajar peserta. Penggunaan alat bantu, bahan belajar yang abstrak bisa dikongkritkan dan membuat suasana belajar yang tidak menarik menjadi menarik.

Banyak alat bantu atau media belajar diciptakan untuk belajar mandiri saat ini, namun untuk mencari suatu pilihan atau solusi alat bantu yang benar-benar baik agar proses belajar menjadi efektif, menarik dan interaktif serta menyenangkan merupakan suatu permasalahan yang perlu dicari solusinya. Alat bantu atau media untuk belajar mandiri pada era kemajuan teknologi sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Hal ini dibutuhkan untuk menciptakan kualitas manusia yang tidak hanya bergantung melalui transfer ilmu secara verbal, baik yang dilakukan oleh sekolah maupun pertenaga pengajaran tinggi ataupun lembaga pendidikan nonformal pada saat ini.

Alat bantu atau media pembelajaran dibuat dan dapat digunakan sesuai dengan subyek dan urgensi dari mata kuliah. Subyek mata kuliah yang cenderung bersifat hafalan atau teoritis dalam pentransferannya mungkin cukup hanya dengan memakai buku panduan. Lain halnya dengan pembelajaran yang cenderung ke arah aplikatif atau praktek yang membutuhkan informasi tambahan.

Dalam pelajaran praktek, dalam memvisualkan suatu bahan ajar terkadang mengalami hambatan yang disebabkan oleh keterbatasan pengajar, peralatan, alat, bahan, biaya dan sebagainya di mana proses penyampaian informasi atau transfer ilmu tidak cukup hanya dengan penyampaian secara verbal (ceramah).

 

B.  Pembahasan

Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan. Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai (2001) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen lingkungan peserta belajar yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Brigs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang peserta untuk belajar. Alat bantu bukan hanya akan memperlancar proses komunikasi dalam belajar tetapi juga dapat merangsang peserta untuk merespon denga cepat tentang pesan yang akan disampaikan. Oleh sebab itu alat bantu yang dapat mendukung proses kelancaran komunikasi antara widyaiswara dan peserta dapat dipandang sebagai media pembelajaran.

Media dalam pembelajaran memiliki fungsi sebagai alat bantu untuk memperjelas pesan yang disampaikan tenaga pengajar. Media juga berfungsi untuk pembelajaran individual dimana kedudukan media sepenuhnya melayani kebutuhan belajar peserta. Menurut Edgar Dale Dalam Sigit Prasetyo (2007: 6)

“Secara umum media memiliki kegunaan yaitu: memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis, mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra, menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar, memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya, memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan persepsi yang sama”.

Menurut Bovee dalam Ouda Teda Ena (2001: 2) “Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan”. Media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber pesan ataupun penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut. Menurut Azhar Arsyad (2002: 12) “Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran”. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 20:”Pembelajaran adalah proses interaksi peserta dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.

Penggunaan media dalam pembelajaran memang sangat disarankan,tetapi dalam penggunaannya tidak semua media baik. Ada hal-hal yang harusdipertimbangkan dalam pemilihan media, antara lain tujuan pembelajaran, sasarandidik, karakteristik media yang bersangkutan, waktu, biaya, ketersediaan sarana,konteks penggunaan, dan mutu teknis. Penggunaan media yang tepat akan sangatmenunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran.

Sebaliknya, penggunaanmedia yang tidak tepat hanya akan menghambur-hamburkan biaya dan tenaga,terlebih bagi ketercapaian tujuan pembelajaran akan jauh dari apa yangdiharapkan. Sebagai salah satu sarana pembelajaran, pertenaga pengajaran tinggi harus dapatmenyediakan media yang tepat untuk menunjang civitas akademika dalam belajaragar tidak jenuh dalam menerima pembelajaran di kelas.

Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan penggunaanmedia pembelajaran, termasuk diantaranya teknologi informasi. Pemanfaatanteknologi informasi sebagai media pembelajaran dapat melalui pemanfaatanpenggunaan komputer sebagai media interaktif. Diharapkan dengan pemanfaatanmedia ini dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, serta perhatian pesertasedemikan rupa sehingga proses pembelajaran dapat terjadi.

Sedangkan menurut Kemp dan Dayton dalam Sigit Prasetyo (2007: 7) mengemukakan manfaat penggunaan media dalam pembelajaran adalah:

1.      Penyampaian materi dapat diseragamkan;

2.      Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik;

3.      Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif;

4.      Efisiensi waktu dan tenaga;

5.      Meningkatkan kualitas hasil belajar peserta;

6.      Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja;

7.      Media dapat menumbuhkan sikap positif peserta terhadap materi dan proses belajar; dan

8.      Mengubah peran tenaga pengajar kearah yang lebih positif dan produktif.

Terkait dengan penjelas di atas, sebagai tenaga pengajar harus mengetahiu fungsi media dari media itu sendiri.

Media pembelajara mempunyai beberapa fungsi dan peran seperti yang disampaikan oleh Ishak Abdulhak (1995:16), yaitu:

1.      Menangkap subatu objek atau peristiwa tertentu. Momentum yang penting dan kejaidan atau objek yang langka dapat diabadaikan dengan kamera ataupun direkam, peristiwa tersebut dapat disimpan dan dapat digunakan kembali ketika diperlukan.

2.      Memanipulasi keadaan, peristiwa atau objek tertentu. Dengan menggunakan model sebagai media, maka instruktur/widyaiswara dapat memperlihatkan pengalam yang lebih nyata dengan menggunakan contoh langsung merujuk kepada objek yang mirip atau menyerupai dengan aslinya, contohnya memperlihatkan putaran bumi dengan menggunakan globe.

3.      Kesempatan belajar yang lebih merata. Dengan menggunakan media seperti radio, video dan sebagainya, orang dapat belajar setiap saat dan dimana saja.

4.      Pembelajaran lebih berdasarkan ilmu. Dengan menggunakan media, proses belajar mengajar akan lebih terencana dengan baik, sebab media dianggap sebagai bagian yang integral dari system belajar mengajar, untuk itu sebelum pelaksanaannya instruktur/widyaiswara dihadapkan kepada suatu keharusan mengidentifikasi kebutuhan dan karakterisitik peserta belajar sehubungan dengan penggunaan media

Lebih jauh dijelaskan penggunaan media pembelajaran memiliki nilai praktis sebagai berikut:

1.      Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki peserta.

2.      Media dapat mengatasi batas ruang kelas, ini terutama dilakukan untuk bahan belajar yang sulit dipahami secara langsung oleh peserta, dalam kondisi ini media dapat berfungsi untuk: a) Menampilkan objek yang terlalu besar untuk dibawa ke ruang kelas; b) Memperbesar serta memperjelas objek yang terlalu kecil dan sulit dilihat seperti bakteri, sel dan lain-lain; c) Mempercepat gerakan sautu proses yang terlalu labat sehingga dapat dilihat dalam waktu yang relatif singkat; d) Memperlambat suatu proses gerakan yang terlalu cepat; e) Menyederhanakan suatu objek yang terlalu kompleks; f) Memperjelas bunyi-bunyian yang sangat lemah sehingga dapat ditangkap oleh telinga.

3.      Media dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta dengan lingkungan.

4.      Media dapat menghasilkan keseragaman pemahaman.

5.      Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, nyata dan tepat.

6.      Media dapat membangkitkan motivasi peserta dan merangsangnya untuk belajar dengan baik.

7.      Media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru.

8.      Media dapat mengontrol kecepatan belajar peserta.

9.      Media dapat memberikan pengalamanyang menyeluruh dari hal-hal konkrit sampai yang abstrak.

Media sebagai komponen pembelajaran perlu dipilih sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi secara efektif. Pemilihan suatu media tertentu oleh seorang tenaga pengajar didasarkan atas pertimbangan anatara lain: a) ia merasa sudah akrab dengan media itu papan tulis atau proyektor transparansi b) ia merasa bahwa media yang yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripada dirinya sendiri misalnya diagram pada flip chart, atau c) media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhatian peserta, serta menuntunnya pada penyajian yang lebih terstruktur dan terorganisasi. Pertimbangan ini diharapkan oleh tenaga pengajar dapat memenuhui kebutuhannya dalam mencapai tujuan yang telah ia tetapkan.

Menurut Azhar Arsyad dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut:

Pertama, yaitu motivasi. Harus ada kebutuhan, minat, atau keinginan utuk belajar dari pihak peserta sebelum meminta perhatiannya untuk mengerjakan  tugas dan latihan.Kedua, yaitu perbedaan individual. Peserta belajar dengan cara dan tingkat kecepatan yang berbeda-beda. Ketiga, tujuan pembelajaran. Jika peserta diberitahukan apa yang diharapkan mereka pelajari melalui media pembelajaran itu, kesempatan untuk berhasil dalam pembelajaran semakin besar. Keempat, adalah organisasi isi. Pembelajaran akan lebih mudah jika isi dan prosedur atau keterampilan fisik yang akan dipelajari diatur dan diorganisasikan ke dalam urutan-urutan yang bermakna. Kelima, yaitu persiapan sebelum belajar. Peserta sebaiknya telah menguasai secara baik pelajaran dasar atau memiliki pengalaman yang diperlukan secara memadai yang mungkin merupakan prasyarat untuk penggunaan media dengan sukses. Dengan kata lain, ketika merancang materi pelajaran, perhatian harus ditujukan kepada sifat dan tingkat persiapan peserta.

Komponen yang terdapat dalam proses komunikasi dalam proses pembelajaran dalam pendidikan pelatihan sebagai berikut:

1.      Pesan dalam proses pembelajaran adalah guru.

2.      Sumber pesan dalam proses pembelajaran berupa materi pembelajaran.

3.      Saluran atau media alat bantu pembelajaran.

4.      Penerima pesan siswa (pembelajaran).

Hal pertama dalam komunikasi adalah proses penuangan pesan aktivitas yang dilakukan dalam penuangan pesan berupa materi pelajaran, adalah mengenal pasti sumber-sumber pengetahuan yang akan disampaikan atau dituangkan mempertimbangkan kelemahan dan kekuatan sumber, serta pesan dapat dituangkan dengan simbol-simbol komunikasi (verbal, non-verbal, visual, dan audio-visual).

Dalam proses penafsiran pesan, adakalanya berhasil dan tidak berhasil keberhasilan penafsiran terjadi karena kemampuan, keseriusan kecepatan memahami pesan yang dilihat, didengar dan diamati. Sedangkan kegagalan penafsiran pesan dapat disebabkan oleh kurangnya kemampuan, kurangnya keseriusan dalam menerima dan memahami pesan yang dilihat, didengar, dan dimengerti.

Hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi dapat berasal dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal).

1.      Hambatan internal, berasal dari diri siswa atau pembelajaran itu sendiri dapat berupa hambatan psikologis (minat, sikap, mendapat kepercayaan intelegensi, pengetahuan dll) dan hambatan fisik (kelelahan sakit, keterbatasan daya indera, dan cacat tubuh.

2.      Hambatan eksternal berasal dari lingkungan pembelajaran. Dapat berupa hambatan kultural (adat istiadat, kepercayaan, norma sosial, dan nilai-nilai panutan) dan hambatan lingkungan (suasana yang panas, bising).

Secara umum hambatan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan media di kelas dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan fungsi media yang digunakan untuk mempermudah proses belajar sehingga proses belajar dapat berjalan secara efektif dan efesien dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat, pengajar dapat mengatasi sikap pasif pembelajar.

 

C.  Penutup

Media pembelajaran adalah salah satu komponen penting dalam kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran banyak macamnya, sehingga dalam pemanfaatannya harus dapat memilih sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Langkah-langkah yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran yaitu kegiatan penerangan atau pembelajaran, menentukan transmisi pesan, menentukan karakteristik pelajaran, klasifikasi media, dan analisis karakteristik masing-masing media. Pada prinsipnya, materi lebih mudah dipahami oleh peserta didik jika dalam proses pembelajaran, peserta didik tidak hanya melihat dan mendengarkan, namun juga melakukan.

Media pembelajaran merupakan alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapoat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau keterampilan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian, sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk pelatihan.

 

Daftar Pustaka

Abdulhak, Ishak. 1995. Media Pendidikan (Suatu Pengantar), Pusat Pelayanan dan Pengembangan Media Pendidikan IKIP Bandung

Arsyad, Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Ena, Ouda Teda. 2001. Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan PirantiLunak Presentasi. Yogyakarta: Indonesian Language and CultureIntensive Ciurse Universiatas Sanata Dharma.

Prasetyo, Sigit. 2007. Pengembangan Pembelajaran Dengan MenggunakanMultimedia Interaktif Untuk Pembelajaran Yang Berkualitas.Semarang: UNNES.

Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2001. Media Pembelajaran. SInar Baru Algensindo. Bandung.

Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Wisna Sanjaya, 2007. Perencanaan dan Desain Sistem Perencanaan, (Jakarta: Kencana Prenada Media group).