Rabu, 20 Februari 2019

Oleh, Safrudin Salem

A.  Latar Belakang

Pendidikan mempunyai peran yang penting dalam menentukan perkembangan dan perwujudan diri individu. Pendidikan bertanggung jawab untuk mengembangkan bakat dan kemampuan  secara optimal sehingga anak dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai kebutuhan pribadi dan masyarakat.

Indonesia sebagai sebuah bangsa, saat ini telah berada pada tatanan kehidupan masyarakat kompetitif abad 21. Kompetisi telah menjadi trend dan merupakan prinsip hidup dan kehidupan baru, karena dunia bersaing untuk memposisikan diri terdepan dalam menghasilkan karya-karya unggulan untuk merebut setiap peluang dan kesempatan yang terbuka dalam berbagai aspek kehidupan.

Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan, mutu pendidikan yang rendah, kualitas pendidikan yang jauh dari kata memuaskan, hal ini ditambah lagi dengan minimnya sarana dan prasarana pendidikan yang layak bagi setiap warganya. Bahkan di daaerah tertentu terlihat jelas masih banyak warga Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan sesuai dengan nilai-nilai pancasila dan Tujuan Negara yang tercamtum di dalam Undang-undang Dasar 1945. Sistem pendidikan di Indonesia selalu masih disesuaikan dengan kondisi politik dan sistem birokrasi yang ada, padahal hal itu bukanlah masalah utama, yang terpenting adalah bagaimana bukti terealisasinya dikehidupan pendidikan yang nyata termasuk kurangnya pemerataan pendidikan dan mutu pendidikan di daerah-daerah yang masih jauh dari kata standar nasional yang telah diberlakukan di daerah-daerah kawasan pendidikan yang sudah sangat maju, dibandingkan daerah tersebut.

Pendidikan laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini, dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupannya.

Undang-Undang SISDIKNAS Nomor 20 tahun 2003 pada Bab II pasal 3 menyebutkan:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta pearadaban bangsa, yang bertujuan untukmengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Komplementer dengan fungsi Pendidikan Nasional maka pembangunan bidang pendidikan juga mengupayakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlaq mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dengan mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945.

Guru memegang peran utama dalam pendidikan, khususnya pendidikan yang diselenggarakan secara formal di sekolah. Guru sangat menentukan keberhasilan pesertadidik, terutama dalam kaitannya dengan proses pembelajaran. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesionaldan berkualitas. Begitu pentingnya peran guru dalam proses pendidikan, maka seorangguru dituntut untuk selalu meningkatkan kemampuandan profesionalnya sebagai tenaga yangprofesional.

Pendidikan yang seharusnya menjadi hak wajib bagi setiap warga negara Indonesia hingga kini masih belum bisa dirasakan secara merata bagi warganya. Hal ini mengakibatkan menurunnya kualitas pendidikan dari tahun ke tahun untuk seluruh Indonesia. Walaupun tidak semua daerah menurun tetapi hal ini menjadikan pendidikan di Indonesia tidak merata. Ketidak merataan ini akan menjadi masalah kompleks yang akan menjadi sulit jika tidak segera diselesaikan oleh tiap-tiap Individu. Indonesia adalah negara berkembang yang masih dalam proses pembangunan, tapi porsi di bidang pendidikan masih kurang dari cukup, terutama untuk daerah tertinggal. Masyarakat di daerah tersebut masih terbengkalai dalam urusan Pendidikan wajib yang diprogramkan oleh pemerintah Indonesia sendiri.

Di era persaingan global seperti sekarang ini peningkatan kinerja kelembagaan menjadi prioritas utama. Parameter tinggi rendahnya kinerja sekolah seringkali diukur dengan tinggi rendahnya prestasi belajar siswa.

Pendidikan di Maluku secara Nasional masih memprihatinkan. Data ujian Nasional tahun 2017 prestasi Maluku pada jenjang pendidikan di SMP/MTs belum sesuai dengan yang diharapkan dikarenakan rendahnya prestasi tersebut yang memperlihatkan rendahnya kinerja guru. Oleh karena itu, guru merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan untuk terselengaranya proses pendidikan. Keberadaan guru merupakan pelaku utama sebagai fasilitator penyelengaraan proses belajar mengajar. Guru sebagai tenaga professional harus memiliki kemandirian dalam keseluruhan kegiatan pendidikan baik dalam jalur sekolah maupun luar sekolah, guru memegang posisi yang sangat strategis.

Setiap agama memposisikan dirinya sebagai sebuah tatanan nilai yang mulia yang menjiwai apapun yang terdapat di dunia ini, termasuk di dalamnya pendidikan. Para penganut agama Islam, Kristen, dan Katolik misalnya, akhirnya memaksakan integrasi agama-pendidikan hingga kepada simbol keagamaan lembaga-lembaga pendidikan yang mereka kelola. Awal sejarah pendidikan di negeri inipun sebenarnya sudah diawali dengan fenomena itu. Jauh sebelum Indonesia merdeka, mereka telah menyebarkan agama melaluipenyelenggaraanpendidikan.

Salah satu tujuan dari pendidikan nasional adalah meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan YME. Untuk mencapai tujuan itu, pendidikan agama perlu diberikan pada semua jenjang dan jenis sekolah dan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar sampai dengan tingkat tinggi.

Dengan demikian, pembelajaran Pendidikan Agama sangatlah penting mengingat bahwa pembelajaran agama sejatinya untuk membentuk perilaku keagamaan atau moralitas peserta didik sehingga akhirnya terbentuk masyarakat beradab yang Islami.

B.  Pembahasan

1.    Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum

Pendidikan adalah suatu proses pemberian bimbingan terhadap anak oleh orang dewasa dengan sengaja untuk mempengaruhi potensi anak agar mencapai kedewasaan (Syafaruddin, 2005: 24).

Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan harus adaptif terhadap perubahan.

Dalam konteks pembaharuan pendidikan, ada tiga isu utama yang perlu disoroti, yaitu pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran dan efektifitas metode pembelajaran khususnya pembaharuan di bidang Agama Islam.

Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar, terencana dalam menyiapkan anak didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Qur’an dan Al Hadits melalui bimbingan, pengajara. Latihan serta penggunaan pengalaman (Muhaimin, 2002: 75). Dibarengi tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama.

Fungsi pendidikan Agama Islam di sekolah adalah untuk pengembangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah serta akhlak mulia, penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial melalui pendidikan Islam.

Berdasarkan fungsinya itu, maka tujuan pendidikan agama Islam di sekolah adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan kepada Allah serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah yang sedang berlangsung belum semuanya memenuhi harapan kita sebagai umat Islam mengingat kondisi dan kendala yang dihadapi, maka diperlukan pedoman dan pegangan dalam membina pendidikan agama Islam. Ini semua mengacu pada usaha strategis pada rencana strategis kebijakan umum Direktorat Jendral Pendidikan Agama Islam Departemen Agama yaitu peningkatan mutu khusus mengenai pendidikan agama Islam di sekolah, peningkatan mutu itu sendiri terkait dengan bagaimana kualitas hasil pembelajaran pendidikan agama Islam pada peserta didik yang mengikuti pendidikan di sekolah.

Mutu itu sendiri sebetulnya sesuatu yang memenuhi harapan-harapan kita. Artinya kalau pendidikan itu bermutu hasilnya memenuhi harapan-harapan dan keinginan-keinginan kita. Kita bukan hanya sebagai pengelola, tetapi juga sebagai pelaksana bersama semua pemangku kepentingan termasuk masyarakat, orang tua.

Dalam kenyataan pendidikan agama Islam di sekolah masih banyak hal yang belum memenuhi harapan. Misalnya kalau guru memberikan pendidikan agama Islam kepada peserta didik, maka tentu yang kita inginkan adalah peserta didik bukan hanya mengerti tetapi juga dapat melaksanakan praktek-praktek ajaran Islam baik yang bersifat pokok untuk dirinya maupun yang bersifat kemasyarakatan. Karena di dalam pendidikan agama Islam bukan hanya memperhatikan aspek kognitif saja, tetapi juga sikap dan keterampilan peserta didik. Peserta didik yang mendapatkan nilai kognitifnya bagus belum bisa dikatakan telah berhasil jika nikai sikap dan ketrampilannya kurang. Begitu pula sebaliknya, jika sikap dan/atau keterampilannya bagus tetapi kognitifnya kurang, belum bisa dikatakan pendidikan agama Islam itu berhasil. Inilah yang belum memenuhi harapandankeinginankita.

Penyelenggaraan pendidikan agama Islam di sekolah penuh tantangan, karena secara formal penyelenggaraan pendidikan Islam di sekolah hanya 2 jam pelajaran per minggu. Jadi apa yang bisa mereka peroleh dalam pendidikan yang hanya 2 jam pelajaran. Jika sebatas hanya memberikan pengajaran agama Islam yang lebih menekankan aspek kognitif, mungkin guru bisa melakukannya, tetapi kalau memberikan pendidikan yang meliputi tidak hanya kognitif tetapi juga sikap dan keterampilan, guru akan mengalami kesulitan.

2.        Guru

Guru adalah tokoh yang bermakna dalam kehidupan siswanya. Guru tidak hanya sebagai pengajar, melainkan sebagai pendidik dalam arti yang sebenarnya. Peluang untuk memunculkan siswa yang kreatif akan lebih besar dari guru yang kreatif pula. Guru yang kreatif mengandung pengertian ganda, yakni guru yang secara kreatif mempu menggunakan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar dan juga guru yang senang melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dalam hidupnya. Guru senantiasa memegang posisi kunci dalam dalam proses pembelajaran. Sebagai pengajar guru berperan menciptakan suasana yang kondusif, sehingga mendorong berfungsinya proses mental pra kesadaran yang merupakan dasar bagi lahirnya kreasi siswanya, (Hasan, 2001: 200).

Peran guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa adalah guru berperan sebagai fasilitator. Guru harus memahami dan terbuka pada anak. Bakat anak tidak datang secara simultan atau tiba-tiba, melainkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan hukum alam yang ada, bahwa manusia tumbuh dan berkembang setahap demi setahap. Anak mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, jika anak memiliki kesulitan-kesulitan dalam kegiatan belajar di sekolah, guru berusaha mengatasi atau mencari alternatif pemecahannya dengan memilih atau memberikan kegiatan-kegiatan yang disukai atau diminati anak (Hasan, 2001: 205).

Pendidikan mutu guru sebagai pendidik dan tenaga kependikan dilaksanakan dengan mengacu pada standar pendidik dan tenaga kependidikan mata pelajaran dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP). Untuk itu dilakukan kegiatan-kegiatan penyediaan guru pendidikan agama Islam untuk satuan pendidikan peserta didik usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi pada jalur formal dan non formal, serta informal. Dilakukan pula pendidikan dan pelatihan metode pembelajaran pendidikan agama Islam, pemberian bea peserta didik Strata 1 (S1) untuk guru pendidikan agama Islam, dan juga melakukan sertifikasi guru pendidikan agama Islam.

Ada dua jalur/cara dalam rangka peningkatan kualitas kemampuan guru, pertama adanya jalur resmi untuk mengikuti pendidikan S1, kedua yang rutin mengikuti kegiatan-kegiatan melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Dari kedua jalur ini, diharapkan guru pendidikan agama Islam di sekolah tidak berjalan begitu saja dan kemampuannya juga tidak meningkat.

Sebagai orang Islam kita berpegang kepada suatu kaidah yang menyatakan bahwa kalau hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka celaka. Kalau hari ini sama dengan hari kemarin, maka rugi, dan kalau hari ini lebih bagus dari hari kemarin, maka beruntung. Maka harus ada upaya-upaya untuk terus menerus belajar minal mahdi ilallahdi. Dalam salah satu hadits dinyatakan bahwa jadilah kalian orang yang mengajar, atau jadilah orang-orang belajar atau kalau tidak kedua-duanya sekurang-kurangnya mendengarkan. Janganlah jadi yang keempat yaitu tidak mengajar, tidak belajar, dan tidak mendengar. Untuk itulah guru yang harus selalumeningkatkankualitasdirinya.

Pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan agama Islam berorientasi pada penerapan Standar Nasional Pendidikan. Untuk itu dilakukan kegiatan-kegiatan seperti pengembangan metode pmbelajaran pendidikan agama Islam, pengembangan kultur budaya Islami dalam proses pembelajaran, dan pengembangan kegiatan-kegiatan kerokhanian Islam dan ekstrakurikuler.

Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah masih menunjukkan keadaan yang memprihatinkan. Banyak faktor yang menyebabkan keprihatinan itu, antara lain pertama, dari segi jam pelajaran yang disediakan oleh sekolah secara formal, peserta didik dikalkulasikan waktunya hanya 2 jam pelajaran per minggu untuk mendidik agama. Coba bandingkan dengan mata pelajaran lainnya yang bisa mencapai 4 – 6 jam per minggu. Implikasinya bagi peserta didik adalah hasil belajar yang diperolehnya sangat terbatas. Sedangkan implikasi bagi guru itu sendiri adalah guru dituntut untuk melaksanakan kewajiban menyelenggarakan proses pembelajaran sebanyak 24 jam per minggu. Yang jadi persoalan adalah kalau seorang guru agama ditugasi mengajar di sekolah, misalnya di sekolah dasar (SD) ada 6 kelas kemudian di satu kelas guru mengajar 3 jam pelajaran, sehingga maksimal pembelajaran yang dilaksanakan guru adalah 18 jam pelajaran. Berarti guru tidak memenuhi kewajiban sesuai dengan tugas yang diberikan oleh pemerintah. Implikasinya adalah guru tersebut tidak berhak memperoleh tunjangan-tunjangan sebagai guru karena kewajiban mengajarnya belum memenuhi syarat yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Tuntutan itu harus benar-benar diperhitungkan karena pemerintah memberikan dan menaikkan tunjangan-tunjangan bukan hanya gaji kepada guru yang melaksanakan tugas kewajibannya sesuai dengan jumlah jam pelajaran yang sudah ditentukan.

Pelaksanaan pendidikan agama Islam tidak hanya disampaikan secara formal dalam suatu proses pembelajaran oleh guru agama, namun dapat pula dilakukan di luar proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Guru bisa memberikan pendidikan agama ketika menghadapi sikap atau perilaku peserta didik. Pendidikan agama merupakan tugas dan tanggung jawab bersama semua guru. Artinya bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru agama saja melainkan juga guru-guru bidang studi lainnya. Guru-guru bidang studi itu bisa menyisipkan pendidikan agama ketika memberikan pelajaran bidang studi. Dari hasil pendidikan agama yang dilakukan secara bersama-sama ini, dapat membentuk pengetahuan, sikap, perilaku, dan pengalaman keagamaan yang baik dan benar. Peserta didik akan mempunyai akhlak mulia, perilaku jujur, disiplin, dan semangat keagamaan sehingga menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, guru tidak mengawasi, tetapi mengarahkan kepada anak untuk mencapai tujuan, guru harus bisa menciptakan lingkungan di dalam kelas yang dapat merangsang belajar kreatif anak supaya anak merasa aman dan kerasan berada di dalam kelas, dengan begitu kreativitas anak dapat berkembang dengan baik (Sardiman, 2001: 120).

Kegiatan belajar mengajar di sekolah berorientasi pada pencapaian prestasi belajar akademik yang tinggi oleh semua siswa. Kreativitas siswa apabila memperoleh peluang untuk berkembang di dalam iklim belajar mengajar yang kondusif, maka prestasi belajar yang tinggi dapat dicapai. Karena kreativitas guru dalam mengajar, dijadikan sebagai asumsi yang dinilai mampu meningkatkan motivasi belajar siswa (Munandar, 1992: 42).

Guru yang mempunyai kreativitas yang tinggi akan mampu memberikan motivasi belajar kepada anak didiknya. Motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha dalam pencapaian prestasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajar, sehingga prestasi belajar pendidikan agama Islam akan tercapai dengan hasil yang baik (Muhaimin, 2002: 38).

C.  Penutup

Pendidikan Agama Islam di sekolahmempunyaifungsiuntukpengembangankeimanandanketaqwaankepada Allah sertaakhlakmulia, penanamannilaiajaran Islam sebagaipedomanmencapaikebahagiaanhidup di duniadanakhirat, penyesuaian mental pesertadidikterhadaplingkunganfisikdansocialmelaluipendidikan Islam.

Guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk sikap keagamaan peserta didik di Sekolah Umum, menanamkan nilai-nilai keislaman secara subtansial dan universal sehingga tercapai tujuan utama sebagai guru PendidikanAgama Islam di sekolah.

Daftar Pustaka

Langgulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, cet. ke-3, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 2001.

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2002

Munandar, S.C.Utami, Krerativitas & Keberbakatan Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif & Bakat, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 1999

Republik Indonesia, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasinal

Republik Indonesia, UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Sardiman AM, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2001

Syafaruddin, Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, Ciputat, Quantum Learning, 2005