Kamis, 21 Februari 2019

 Oleh : Warda Tuny

Masa depan suatu bangsa sangat erat kaitannya dengan komitmen politik dan upaya nyata dalam pendidikan untuk mencerdaskan generasi mudanya. Dan keberhasilan suatu bangsanya dalam mutu pendidikan sangat ditentukan oleh mutu gurunya. Rendahnya mutu pendidikan telah memberikan akibat langsung pada rendahnya mutu sumber daya manusia. Karena proses untuk melahirkan sumber daya manusia yang bermutu hanya bisa melalui jalur pendidikan dan proses pembelajaran yang bermutu pula. Bila ditilik lebih jauh, rendahnya mutu pendidikan bangsa tak lepas dari kondisi para guru sebagai salah satu unsur penyelenggaraan pendidikan. Guru mempunyai posisi dan peranan yang sangat penting dan strategi dalam keseluruhan upaya pencapaian mutu pendidikan (Sholeh:2006).

Pada kurikulum 2013 pendekatan yang harus dilakukan guru pada proses belajar mengajar adalah pendekatan ilmiah (scientific approach) disamping model-model pembelajaran yang lain. Berbagai model pembelajaran yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan adalah varian yang menguntungkan guru dalam rangka pelaksanaan pembelajaran yang menantang dan menyenangkan. Pemilihan dan penerapan strategi pembelajaran yang digunakan guru diakui telah mengalami pergeseran dari yang mengutamakan pemberian informasi (konsep-konsep) menuju kepada strategi yang mengutamakan keterampilan-keterampilan berpikir yang digunanakan untuk memperoleh dan menggunakan konsep-konsep. Adanya perubahan pergeseran strategi ini otomatis peran guru harus berubah yaitu dari peran sebagai penyampai bahan pelajaran (transformator) ke peran sebagai fasilitator atau dari “teacher centered” ke “student centered”.

Bahwa pada umumnya pembelajaran sudah mulai bergeser ke “student centered”, tetapi guru belum termotivasi untuk memodifikasi model-model pembelajaran yang ada. Guru belum memahami bahwa model pembelajaran sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran, belum dapat membedakan antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik dalam model pembelajaran.  Guru lebih mementingkan penyampaian informasi daripada membelajarkan siswa. Bahkan ada indikasi guru menganggap bahwa model pembelajaran yang efektif harus menggunakan peralatan yang canggih/lengkap. Sementara itu, di beberapa sekolah belum memiliki peralatan dimaksud. Kondisi ini digunakan sebagai alasan untuk belum mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif khususnya dalam pembelajaran IPA.Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran IPA yang dilakukan lebih dominan kepada aspek pengetahuan dan pemahaman konsep. Akibatnya, guru mengalami banyak kesulitan untuk memusatkan perhatian peserta dalam proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan minat dan motivasi peserta didik untuk mempelajari mata pelajaran IPA  rendah yang berakibat kepada rendahnya kualitas proses dan hasil belajar siswa.

Menurut UNESCO, pembelajaran yang efektif pada abad ini harus diorientasikan pada empat pilar yaitu, (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Keempatnya dapat diuraikan bahwa dalam proses pendidikan melalui berbagai kegiatan pembelajaran peserta didik diarahkan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, menerapkan atau mengaplikasikan apa yang diketahuinya tersebut guna menjadikan dirinya sebagai seseorang yang lebih baik dalam kehidupan sosial bersama orang lain. Dalam pelaksanaannya, tujuan belajar yang utama ialah bahwa apa yang dipelajari itu berguna di kemudian hari, yakni membantu kita untuk dapat belajar terus dengan cara yang lebih mudah, sehingga tercapai proses pembelajaran seumur hidup (long life education).

Untuk mewujudkan hal ini, sangat dibutuhkan kerjasama antara berbagai pihak, terutama antara peserta didik atau siswa dengan pendidik atau guru. Peran guru sebagai pendidik sangat penting; oleh karena itulah, guru dituntut dapat menerapkan berbagai metode yang efektif dan menarik bagi siswa dalam proses penyampaian materi pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang aktif dan interaktif adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) karena melibatkan seluruh peserta didik dalam bentuk kelompok-kelompok. Ada sejumlah hal yang harus dipahami oleh pendidik atau guru sebelum mengaplikasikan metode ini dalam proses pembelajaran di kelas.

Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning)

Menurut Arends dan para pakar pendidikan yang lain (Wasis dkk, 2002), tidak ada model pembelajaran yang lebih baik dari model pembelajaran yang lain. Setiap model dapat digunakan sesuai dengan spesifikasi tujuan, rasional yang mendasari, sintaks pembelajaran, dan sistem pengelolaan dan pengaturan lingkungan yang diberikan pada manualnya. Oleh karena itu, guru hendaknya menguasai dan dapat menerapkan berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sangat beraneka ragam dalam lingkungan belajar yang merupakkan karakteristik sekolah sehingga sangat bervariasi.

Pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-kontruktivis. Hal ini terlihat pada salah satu teori Vygotsky, yaitu tentang penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap kedalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vygotsky ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif (Depag RI :2008).

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap anggota saling membantu dan bekerjasama untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Dalam kelompoknya, siswa harus: a) beranggapan sehidup, sepenanggungan bersama, b) bertanggungjawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti miliknya sendiri, c) memandang semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama, d) membagi tugas dan tanggungjawab yang sama diantara anggota kelompok, e) akan dievaluasi atau diberi hadiah/ penghargaan, f) berbagi kepemimpinan dan butuh keterampilan untuk belajar bekerjasama selama proses belajar berlangsung, g) akan diminta pertanggungjawaban secara individu tentang materi yang ditangani dalam kelompok.

            Dalam cooperative learning dilibatkan partisipasi siswa dalam suatu kelompok kecil dalam rangka meningkatkan interaksi positif. Penerapan model pembelajaran kooperatif ini juga sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsip-prinsip CTL (Contextual Teaching and Learning), yaitu tentang learning community. Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan masa depan yang berbeda-beda. Karena adanya perbedaan,manusia dapat silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku tetapi juga sesama siswa.

            Perbedaan antar manusia yang tidak terkelola secara baik dapat menimbulkan ketersinggungan dan kesalahpahaman antar sesamanya, maka diperlukan interaksi yang silih asuh (saling tenggang rasa). Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Dengan kata lain pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata (Depag RI :2008)

            Santoso (1998:35) dalam Depag RI mengemukakan bahwa kegiatan cooperative learning merupakan kegiatan belajar mengajar dalam kelompok-kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal baik pengalaman individu maupun kelompok. Esensi cooperative learning adalah tanggung jawab individu sekaligus kelompok sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Keadaan ini mendorong siswa dalam kelompok belajar bekerja dan bertanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai selesainya tugas-tugas individu dan kelompok. 

Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah :

a.       Saling ketergantungan positf (Positeve Interdependence)    

Guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan.

b.      Interaksi tatap muka (Face to Face Promotion Interaction)

Interaksi yang menuntut siswa dalam kelompok untuk saling bertatap muka,  sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru tetapi juga dengan sesama siswa.

c.        Akuntabilitas Individual (Individual Accountability)

Pembelajaran ini menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran individual yang didasarkan atas rata-rata penguasaan semua anggota kelompok secara individual.

d.      Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi

Dalam pembelajaran ini ketrampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi sengaja diajarkan.

            Pembelajaran CL juga memiliki ciri khas tertentu. Kekhasan tersebut berdampak pada manfaat yang didapat dari penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar.

Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kooperatif, siswa dituntut untuk aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok.  Karli dan Yuliariatiningsih (2002: 72) dalam (http://www.artikelbagus.com) mengemukakan kelebihan model pembelajaran kooperatif, yaitu:

  1. Dapat melibatkan siswa secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya dalam suasana belajar mengajar yang bersifat terbuka dan demokratis. 
  2. Dapat mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri yang telah dimiliki oleh siswa. 
  3. Dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap, nilai, dan keterampilan-keterampilan sosial untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat. 
  4. siswa tidak hanya sebagai obyek belajar melainkan juga sebagai subyek belajar karena siswa dapat menjadi tutor sebaya bagi siswa lainnya. 
  5. siswa dilatih untuk bekerjasama, karena bukan materi saja yang dipelajari tetapi juga tuntutan untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal bagi kesuksesan kelompoknya. 
  6. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar memperoleh dan memahami pengetahuan yang dibutuhkan secara langsung, sehingga apa yang dipelajarinya lebih bermakna bagi dirinya.

Penggunaan Cooperative Learning dalam Pembelajaran

Guru sebagai tenaga kependidikan harus memiliki kompetensi professional, disamping kompetensi lainnya. Kompetensi professional adalah kemampuan yang berhubungan  dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan. Salah satu kompetensi yang harus di kembangkan oleh seorang guru adalah kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran. Metode mengajar yang baik adalah metode yang disesuaikan dengan materi yang di sampaikan, kondisi siswa, sarana yang tersedia serta penguasaan kompetensi.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran IPA yang dilakukan lebih dominan kepada aspek pengetahuan dan pemahaman konsep. Akibatnya, keterampilan berpikir kritis di kalangan siswa tidak dapat bertumbuh kembang sesuai dengan harapan. Hal ini ditandai dengan banyak siswa yang mengalami kesulitan mempelajari IPA. Bahkan pemahaman yang telah dimiliki para siswapun cenderung cepat hilang.

Untuk mengembangkan potensi belajar sepanjang hayat (to live together) salah satunya melalui model pembelajaran kooperatif. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, keterampilan kepada siswa yang membutuhkan atau anggota lain dalam kelompoknya, sehingga belajar kooperatif dapat saling menguntungkan antara siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Slavin (Ibrahim, 2000:16) tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap hasil belajar pada semua tingkat kelas dan semua bidang studi menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Untuk mengaplikasikan model ini perlu diperhatikan langkah-langkahnyaatau sintaks yang terdiri atas enam fase penting, seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif

Fase

Peran Guru

1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.

Guru menyampaiakan tujuan/ kompetensi yang ingin dicapai, dan memotivasi siswa untuk belajar.

2. Menyajikan informasi.

Guru menyajikan informasi kepada siswa

dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan

bacaan.

3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompokkelompok belajar.

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisis secara efisien.

4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

5. Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

6. Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Sumber : Ibrahim, M., dkk. (2000 : 10).

a.       Fase pertama

Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. Guru mengklasifikasi maksud pembelajaran kooperatif. Hal ini penting untuk  dilakukan karena siswa harus memahami dengan jelas prosedur dan aturan  dalam pembelajaran.

b.      Fase kedua

Guru menyampaikan informasi, sebab informasi ini merupakan isi Akademik

c.       Fase ketiga

Guru harus menjelaskan bahwa siswa harus saling bekerja sama di dalam kelompok. Penyelesaian tugas kelompok harus merupakan tujuan kelompok. Tiap anggota kelompok memiliki akuntabilitas individual untuk mendukung tercapainya tujuan kelompok. Pada fase ketiga ini terpenting jangan sampai ada free-rider atau anggota yang hanya menggantungkan tugas kelompok kepada individu lainnya.

d.      Fase keempat

Guru perlu mendampingi tim-tim belajar, mengingatkan tentang tugas-tugas yang dikerjakan siswa dan waktu yang dialokasikan. Pada fase ini bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, pengarahan, atau meminta beberapa siswa mengulangi hal yang sudah ditunjukkan.

e.       Fase kelima

Guru melakukan evaluasi dengan menggunakan strategi evaluasi yang konsisten dengan tujuan pembelajaran.

f.       Fase keenam

Guru mempersiapkan struktur reward yang akan diberikan kepada siswa. Variasi struktur reward dapat dicapai tanpa tergantung pada apa yang dilakukan orang lain. Struktur reward kompetitif adalah jika siswa diakui usaha individualnya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Struktur reward kooperatif diberikan kepada tim meskipun anggota tim-timnya saling bersaing.

Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan pada model pembelajaran koperatif ini dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Dalam pengaturan lingkungan diusahakan agar materi pembelajaran yang lengkap tersedia dan dapat diakses setiap siswa, serta guru menjauhi kesalahan tradisional yakni secara ketat mengelola tingkah-laku siswa dalam kerja kelompok. Berbagai macam model pembelajaran kooperatif diantaranya:

1. Numbered Heads Together

2. Jigsaw

3. STAD (Student Teams Achievement Divisions)

4. TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction)

5. Cooperative Script

6. Think Pair And Share (Frank Lyman, 1985)

7. Team Games Tournament (TGT)

8. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) 

            Model pembelajaran Cooperatif Learning (CL) merupakan model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

            Model ini sangat baik untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan kooperatf (kerja sama) dan mengkaji materi-materi yang sulit, berfikir kritis dan kemampuan membantu teman. Tentu model ini bukan tidak memiliki kelemahan, sebab pada dasarnya tidak ada model pembelajaran yang sempurna. Maka di sini peran guru agar dapat memilih model-model pembelajaran sesuai dengan indikator-indikator pembelajaran yang akan dikembangkan, juga sesuai dengan situasi dan kondisi. Namun demikian, model Cooperatve Learning harus terus dikembangkan dengan modifikasi-modifikasi secara kreatif dan inovatif oleh guru di sekolah khususnya guru IPA.