Rabu, 20 Februari 2019

Oleh. Herman Bin Saleh

ABSTRAK

Banyak program pelatihan gagal menghasilkan manfaat sesuai dengan harapan organisasi. Karena itu memiliki sistem pengukuran yang tepat akan dapat membantu menentukan dimana permasalahannya. Dengan memperlihatkan manfaat apa yang akan diperoleh organisasi dari terselenggaranya suatu pelatihan, oleh sebab itu penting untuk dilakukan evaluasi dari program diklat yang dilaksanakan sehingga mengetahui tingkat kegagalan atau keberhasilan dari diklat yang dilaksanakan. salah satu model evaluasi yang dapat digunakan adalah evaluasi model Kirkpatrick.  Tulisan ini difokuskan pada langkah – langkah evaluasi diklat model kirkpatrick yang dilakukan melalui kajian pustaka, pokok permasalahannya adalah bagaimana tahapan – tahapan evaluasi program diklat dengan model Kirkpatrick dengan tujuan diharapkan dapat memberikan gambaran bagi evaluator yang ingin melaksanakan evaluasi program diklat  dengan model Kirkpatrick.

Evaluasi merupakan kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan diklat itu sendiri. Evaluasi diklat perlu dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan dalam model evaluasi Kirkpatrick, terdapat empat level evaluasi yang menggambarkan urutan sebuah alur evaluasi program diklat. Setiap level dalam model evaluasi ini sangat penting dan mempengaruhi level berikutnya. Keempat level evaluasi itu adalah; Level 1 – Reaction, Level 2 – Learning, Level 3 – Behavior, Level 4 – Results.

Kata kunci; Evaluasi program diklat dan evaluasi model kirkpatrick

 

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara pasal 70 yang menyebutkan bahwa setiap Aparatur Sipil Negara memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi. Kompetensi meliputi kompetensi teknis, manajerial maupun sosiokultural. Pengembangan kompetensi sebagaimana dimaksud antara lain melalui pendidikan dan pelatihan.

Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) merupakan salah satu cara ampuh dalam memperoleh aparatur pemerintah yang profesional. Menurut (Nawawi, 2006:319) Mengemukakan pelatihan adalah proses memberikan bantuan bagi para pekerja/anggota organisasi untuk menguasai keterampilan/keahlian khusus atau memperbaiki kekurangannya dalam melaksanakan pekerjaan. Diklat merupakan proses yang terencana dan sistematis juga berdampak jangka panjang dalam membekali kompetensi bagi aparatur pemerintah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Harapannya, aparatur yang profesional akan mampu berkinerja tinggi sehingga visi lembaga dimana mereka mengabdi bisa teracapai. Pencapaian visi tentu akan berdampak pula pada efektivitas pembangunan yang dijalankan pemerintah saat ini.

Kualitas penyelenggaraan Diklat harus dilihat secara menyeluruh terhadap keseluruhan tahapan mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai kepada hasil penilaian serta dampak Diklat terhadap peningkatan produktivitas atau kinerja layanan organisasi. Secara khusus evaluasi program pada lembaga pemerintah dan pendidikan merupakan proses untuk menjamin akuntabilitas dan peningkatan berkelanjutan (Edward, Scott dan Nambury, 2007: 3). 

Keberhasilan pelatihan dan pengembangan dapat diketahui melalui pelaksanaan evaluasi. Secara sistimatik manajemen pelatihan meliputi tahap perencanaan yaitu training need analysis, tahap implementasi dan tahap evaluasi. Tahap terakhir merupakan titik kritis dalam setiap kegiatan karena acap kali diabaikan sementara fungsinya sangat vital untuk memastikan bahwa pelatihan yang telah dilakukan berhasil mencapai tujuan atau kah justru sebaliknya.

Salah satu permasalahan ketika kita hendak melakukan evaluasi adalah pemilihan model yang dianggap paling sesuai terhadap program yang hendak dievaluasi. Pemilihan model evaluasi ini menjadi penting dikarenakan setiap program memiliki karakteristik yang berbeda dan setiap model evaluasi memiliki asumsi, pendekatan, terminologi, dan logika berpikir yang berbeda pula.

Meskipun setiap model evaluasi tetap memiliki keterbatasan, namun pemilihan model yang tepat akan berimplikasi langsung terhadap kualitas informasi yang dihasilkan oleh suatu evaluasi. Kualitas informasi dalam suatu evaluasi bisamenjadi ukuran keberhasilan suatu evaluasi. Sebab tujuan utama evaluasi adalah menyediakan informasi bagi pengambil keputusan mengenai suatu program untuk menentukan apakah suatu program dihentikan, diteruskan dengan perbaikan, atau diteruskan dengan pengembangan.

Salah satu model evaluasi yang sangat relevan dengan komponen yang melekat dalam pelaksanaan Diklat adalah evalusi model Kirkpatrik. Kirkpatrick memperkenalkan model evaluasinya pertama kali pada tahun 1975. Model ini diakui memiliki kelebihan karena sifatnya yang menyeluruh, sederhana, dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi pelatihan. Menyeluruh dalamartian model evaluasi ini mampu menjangkau semua sisi dari suatu program pelatihan. Dikatakan sederhana karena model ini memiliki alur logika yang sederhana dan mudah dipahami serta kategorisasi yang jelas dan tidak berbelit-belit. Sementara dari sisi penggunaan, model ini bisa digunakan untuk mengevaluasi berbagai macam jenis pelatihan dengan berbagai macam situasi.

Menurut Kirkpatrick, evaluasi didefinisikan sebagai kegiatan untuk menentukan tingkat efektifitas suatu program pelatihan. Dalam model Kirkpatrick, evaluasi dilakukan melalui empat tahap evaluasi atau kategori. meliputi level reaksi (reaction), pembelajaran (learning), perilaku (behaviour), dan hasil (result). di mana setiap level memiliki tahapan –tahapan secara terstuktur dan berkesinambungan antara satu level dan level yang lain yang harus menjadi perhatian evaluator yang menggunakan model ini dalam mengevaluasi program Diklat yang dilaksanakan, sehingga evalusi yang dilakukan dengan model Kirkpatrick dapat dipertanggungjawabkan hasilnya.

 

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas permasalahan yang diangkat ialah bagaimana tahapan – tahapan evaluasi program diklat dengan model Kirkpatrick?

 

C. Tujuan

Dari kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi evaluator yang ingin melaksanakan evaluasi program diklat  dengan model Kirkpatrick mengenai tahapan – tahapan evaluasi program diklat  dengan model Kirkpatrick.

 

II PEMBAHASAN

A.  Evaluasi program Diklat

1.      Pengertian Evaluasi

Menurut (Arikunto, 2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan.

Selanjutnya menurut (Worthen dan Sanders,1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program, produksi serta alternatif prosedur tertentu. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal, pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula.

Menurut stufflebeam dalam (worthen dan sanders, 1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining), penggambaran (delineating), penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives).

Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas, kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Karenanya, dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses. (Sudharsono, 1994 : 2)

 

2.      Evaluasi program Diklat

Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. demikian juga dengan evaluasi. Menurut (Arikunto, 2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen.

Evaluasi pelatihan merujuk pada proses pengkonfirmasian bahwa seseorang telah mencapai kompetensi. Kompetensi menurut (Sofo, 2003) dapat didefenisikan sebagai apa yang diharapkan di tempat kerja dan merujuk pada pengetahuan, keahlian dan sikap yang dipersyaratkan bagi pekerja untuk mengerjakan.

Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kompetensi ataupun menutup jurang atau gap dari kompetensi yang disayaratkan oleh posisi tersebut dengan realita kompetensi dari karyawan, namun sering juga kita dengar bahwa setelah mengikuti diklat, karyawan tidak bisa memperlihatkan suatu perkembangan kearah yang lebih baik. Hal ini tidak terlepas dari bagaimana kita harus memperhatikan aspek evaluasi dari diklat itu sendiri. Dengan adanya evaluasi diklat, membuat kita menjadi lebih sadar terhadap bagaimana impact terhadap peserta diklat (learner) sebelum training dan sesudah training.

Selanjutnya Kirkpatrick (dalam National Weather Service Training Center, 2007) mengungkapkan bahwa evaluasi pelatihan adalah usaha pengumpulan informasi secara sistematis. Evaluasi pelatihan harus dirancang bersamaan dengan perancangan pelatihan, berdasarkan pada perumusan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Evaluasi pelatihan mencoba mendapatkan informasi mengenai hasil-hasil program pelatihan, kemudian menggunakan informasi itu dalam penilaian apakah pelatihan telah mencapai tujuan pelatihan secara keseluruhan.

Oleh sebab itu evaluasi pelatihan menurut Kirkpatrick (1994) adalah untuk menentukan efektifitas dari suatu program pelatihan. Bukan hanya melakukan perbandingan kemampuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan (pre dan pos tes).

Efektifitas pelalihan menurut Newby  Dalam lrianto (2001) berkaitan dengan sejauh mana program pelatihan yang diselenggarakan mampu mencapai apa yang memang telah diputuskan sebagai tujuan yang harus dicapai. sehingga menurut Tovey sebagaimana yang dikutip Irianto (2001 ), evaluasi pelatihan secara komprehensif adalah pengumpulan informasi tentang program pelatihan, peserta pelatihan, pelatih atau fasilitator, desain, metode, sumberdaya dan sarana yang digunakan serta dampak dari pelatihan.

Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Tanpa adanya evaluasi, program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. Karenanya, evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan, memperbaiki atau menghentikan sebuah program.

B. Evaluasi diklat model Kirkpatrick

Kirkpatrick salah seorang ahli evaluasi program pelatihan dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM). Model evaluasi yang dikembangkan oleh Kirkpatrick dikenal dengan istilah Kirkpatrick Four Levels Evaluation Model. Evaluasi terhadap efektivitas program pelatihan (training) menurut Kirkpatrick (1998) mencakup empat level evaluasi, yaitu: level 1 reaction, level 2 learning, level 3 behavior, dan level 4 result.

Konsep evaluasi yang mengasumsikan bahwa terdapat hubungan antar 4 level adalah rantai sebab-akibat, dimana reaction (level 1) positif akan menghasilkan learning (level 2) yang lebih banyak, lalu menghasilkan behavior (level 3) ke dalam pekerjaan keseharian, dan terakhir memberikan results (level 4) yang lebih positif terhadap organisasi (Kirkpatrick, 2009). 

C. Tahapan – tahapan Evaluasi Diklat Model Kirk Patrick

a.              Evaluasi Reaksi (Evaluating Reaction)

Mengevaluasi reaksi adalah sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan konsumen Kirkpatrick, L. & Kirkpatrick D. (2006). Menurut McLean, S. & Moss, G. (2003) evaluasi di level satu biasa disebut dengan “happy face evaluation”, dimana dilevel ini diukur reaksi dan kepuasan peserta terhadap program pelatihan. Mengukur tingkat kepuasan peserta dalam kegiatan pelatihan merupakan hal yang penting, karena menyangkut motivasi mereka dalam belajar. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Holton, F., E. (1996) bahwa motivasi belajar berhubungan langsung dengan pembelajaran. Evaluasi di level 1 tidak mengukur apa yang peserta telah pelajari, namun mengukur minat, motivasi, dan tingkat perhatian dari peserta pelatihan (Smidt Balandin, Sigafoos, & Reed,(2009).

Pentingnya mengukur reaksi menurut Kirkpatrick (2006) berdasarkan beberapa alasan, yaitu: untuk memberikan masukkan yang berharga kepada penyelenggara pelatihan dalam meningkatkan program pelatihan dimasa datang; memberikan saran dan masukkan kepada pengajar mengenai tingkat efektifitas mereka dalam mengajar; dapat memberikan informasi kuantitatif kepada para pembuat keputusan terkait dengan pelaksanaan program pelatihan; serta agar dapat memberikan informasi kuantitatif kepada pengajar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk membuat standar pengajaran untuk program yang akan datang.

Menurut Ramadhon dalam forum diklat Vol. 06 No. 1 Langkah-langkah dalam melakukan evaluasi di level-1 adalah:

1)      Tentukan hal-hal yang dapat menginformasikan kepuasan peserta dalam mengikuti kegiatan pelatihan seperti fasilitas, jadwal, kualitas makanan, kualitas pengajar, kualitas diktat atau modul, kualitas media pembelajaran, strategi pembelajaran yang diterapkan pengajar, kesigapan dan keramahan panitia, serta informasi lainnya yang dibutuhkan.

2)      Informasi-informasi tersebut kemudian dikemas dalam suatu format isian yang mudah dimengerti oleh subjek evaluasi, serta dapat mengkuantifikasikan informasi-informasi tersebut. Tambahkan juga kolom komentar dan saran sebagai informasi tambahan.

3)      Lakukan evaluasi di level ini segera, baik ketika kegiatan belangsung, maupun setelah kegiatan pelatihan berakhir.

4)      Lakukan tindakan yang tepat secara langsung dalam menyikapi hasil evaluasi.

b.              Evaluasi Belajar (Evaluating Learning)

Menurut (Kirkpatrick, 1998:20) mengemukakan learning can be defined as the extend to which participans change attitudes, improving knowledge, and/or increase skill as a result of attending the program. Terdapat tiga hal yang dapat instruktur ajarkan dalam program pelatihan, yaitu pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Peserta pelatihan dikatakan telah belajar apabila pada dirinya telah mengalami perubahan sikap, perbaikan pengetahuan maupun peningkatan keterampilan.

Kegiatan pengukuran dalam evaluasi tahap kedua ini relatif lebih sulit dan lebih memakan waktu jika dibanding dengan mengukur reaksi peserta. Oleh karenanya penggunaan alat ukur dan pemilihan waktu yang tepat akan dapat membantu kita mendapatkan hasil pengukuran yang sahih dan akurat. Alat ukur yang bisa kita gunakan adalah tes tertulis.

Tes tertulis kita gunakan untuk mengukur tingkat perbaikan pengetahuan dan sikap peserta, untuk dapat mengetahui tingkat perbaikan aspek-aspek tersebut, tes dilakukan sebelum dan sesudah program.

c.              Evaluasi Tingkah Laku (Evaluating Behavior)

Perilaku menurut Kirkpatrick (2006), didefinisikan sebagai sejauh mana perubahan perilaku yang muncul karena peserta mengikuti program pelatihan. Evaluasi level-3 dilakukan untuk mengindikasikan sejauh mana materi dalam pelatihan diaplikasikan pada pekerjaan dan tempat kerja peserta (Steensma, H., & Groeneveld, K. 2010). Menurut Tan, & Newman, (2013) evaluasi perilaku mengukur pengetahuan, keterampilan, atau sikap apa yang dipelajari untuk diaplikasikan atau dipindahkan pada pekerjaan.

Untuk dapat mengaplikasikan perubahan perilaku tersebut, menurut Kirkpatrick, & Kirkpatrick D. (2006) terdapat empat kondisi yang diperlukan, yaitu: seseorang harus mempunyai keinginan untuk berubah; seseorang harus tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukan hal tersebut; seseorang harus bekerja dalam lingkungan kerja yang tepat; serta seseorang harus mendapatkan penghargaan karena dia berubah.

Langkah-langkah dalam melakukan evaluasi level-3 adalah:

1.    Lakukan terlebih dahulu evaluasi di level-1 dan level-2.

2.    Berikan waktu untuk berlangsungnya perubahan perilaku, yang umumnya adalah 3 sampai dengan 6 bulan setelah pelatihan.

3.    Lakukan evaluasi perilaku baik sebelum dan sesudah program pelatihan apabila memungkinkan.

4.    Lakukan metode survei menggunakan kuisioner atau/dan wawancara pada peserta pelatihan, atasan langsung peserta, bawahan peserta, dan pihak lain yang sering mengamati perilaku peserta.

5.    Lakukan evaluasi pada semua peserta, atau apabila tidak memungkinkan gunakan metode sampling.

6.    Lakukan evaluasi ulangan pada waktu yang sesuai, untuk memastikan peserta tetap pada perilaku yang sesuai dengan tujuan pelatihan.

7.    Pertimbangkan faktor biaya pelaksanaan evaluasi perilaku dibandingkan dengan keuntungan yang dihasilkan dari evaluasi.

d.             Evaluasi Hasil (Evaluating Result)

Evaluasi hasil dalam level ke 4 ini difokuskan pada hasil akhir (final result) yang terjadi karena peserta telah mengikuti suatu program. Termasuk dalam kategori hasil akhir dari suatu program pelatihan di antaranya adalah kenaikan produksi, peningkatan kualitas, penurunan biaya, penurunan kuantitas terjadinya kecelakaan kerja, penurunan turnover (pergantian) dan kenaikan keuntungan.

Jika kita persempit untuk organisasi persekolahan yang mengirim gurunya dalam program pelatihan, aspek yang bisa kita ukur dalam evaluasi result ini adalah suasana belajar di kelas, tingkat partisipasi siswa dalam pembelajaran, maupun nilai belajar siswa. (Feri, 2008:5)

Satu hal yang perlu disadari bahwa yang bisa dimasukkan dalam aspek evaluasi result ini tidak hanya melulu yang berhubungan dengan produktifitas, namun bisa lebih luas dari itu. Terbangunnya teamwok yang makin solid dan kompak yang berimplikasi langsung terhadap motivasi dan suasana kerja dalam suatu organisasi juga merupakan aspek yang bisa dijadikan pertimbangan dalam evaluasi di tahap ini.

Selain melalui observasi langsung dan wawancara dengan pimpinan organisasi, evaluasi terhadap result ini sangat disarankan menggunakan metode dokumentasi. Dokumentasi terhadap catatan atau laporan organisasi dapat digunakan untuk mengetahui dampakpelatihan terhadap produktifitas organisasi. Karena kebanyakan materi program pelatihan tidak berdampak secara langsung terhadap result organisasi, maka evaluasi di tahap ini membutuhkan jeda waktu yang lebih lama dibanding evaluasi terhadap perilaku. Apalagi biasanya perhitungan terhadap aspek-aspek result suatu organisasi dilakukan dalam periode laporan tahunan. Oleh karenanya evaluasi di tahap ini membutuhkan rentang waktu yang lebih lama dalam pelaksanaannya.

 

III. PENUTUP

Kesimpulan

Evaluasi merupakan kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan diklat itu sendiri. Evaluasi diklat perlu dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan dalam model evaluasi Kirkpatrick, terdapat empat level evaluasi yang menggambarkan urutan sebuah alur evaluasi program diklat. Setiap level dalam model evaluasi ini sangat penting dan mempengaruhi level berikutnya. Keempat level evaluasi itu adalah; Level 1 – Reaction, Level 2 – Learning, Level 3 – Behavior, Level 4 – Results.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. 2004. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Atmodiwirio, S. 1993. Manajemen Training. Pedoman Praktis Bagi Penyelenggara Training. Jakarta: Balai Pustaka

Edwards, Jack E, John C. Scott, and Nambury S. Raju. 2007. Evaluating Human Resources Programs: A 6-Phase Approach for Optimizing Performance. San Fransisco: John Wiley & Sons, Inc

Kirkpatrick, D. L., & Kirkpatrick, J. D. 2005. Transferring learning to behavior: Using the four levels to improve performance. San Fransisco: BerrettKoehler Publishers

Nawawi, Hadari, 2006. Evaluasi dan manajemen kinerja di lingkungan perusahaan dan industri: Yogyakarta: Gadjah Mada Univercity Press.

Worthen,B. R and J. R. Sanders., 1979. Educational Avaluation : Theory and Practice. Belmont, C. A. : Wadsorth

Undang – undang Republik Indonesia No. 5, Tahun 2014.  tentang aparatur sipil Negara