Top
    bdkambon@kemenag.go.id
(0911) 362488
PENERAPAN PENDEKATAN KOKREASI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH

PENERAPAN PENDEKATAN KOKREASI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH

Senin, 9 Desember 2019
Kategori : Artikel Ilmiah
68 kali dibaca

Oleh: Ali Litiloly

Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Ambon

Abstrak

Karya tulis ini  bertujuan untuk mendeskrifsikan langka-langkah penerapan pendekatan kokreasi dalam pengembagan pendidikan multicultural di sekolah.        

Ciri khas kemajemukan bangsa Indonesia dapat membawa nilai positif dan juga negatif karena terkadang masing-masing ingin menjadi dominan” dan “kurang menghargai lainnya”. Salah satu solusi dalam mencegah sikap “mendominasi” diterapkannya pendidikan multikultural di sekolah dengan menggunakan berbagai pendekatan. Kokreasi merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam  pengembangan pendidikan multicultural disekolah karena  mengedepankan kerja sama dan komitmen bersama antara pihak terkait untuk memahami dan memulai suatu hal dalam mengembangkan lembaga dalam mencapai kesuksesan. 

Akhirnya penulis berkesimpulan bahwa pendekatan kokreasi merupakan salah satu pendekatan yang evektif dan dapat digunakan dalam mengembangkan pendidikan multicultural di sekolah yang dimulai dengan perubahan mindset dan menguatkan keyakinan, mengembangkan gagasan bersama dan tanggung jawab bersama, perubahan dari diri sendiri dan yang terakhir selalu ada perbaikan yang berkelanjutan untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Key word: Pendekatan Kokreasi, Pendidikan Multikultural.

  1.  Pendahuluan
  1. Latar Belakang

Berada pada berbagai lokus habitus agama, etnis, budaya yang selalu eksis dan memiliki corak yang variatif merupakan sebuah ciri khas kemajemukan bangsa Indonesia. Akhmad Hidayatullah Al-Arifin (2012:76-77) menjelaskan bahwa kemajemukan ini dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu kemajemukan dalam perspektif horizontal yakni perbedaan agama, etnis, bahasa daerah, geografis, dan budayanya. Sedangkan  dalam perspektif vertikal, kemajemukan bangsa Indonesia dapat dilihat dari perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi, dan tingkat sosial budayanya.  

Oleh karena itu, kemajemukan bangsa ini merupakan sebuah keniscayaan (sunatullah). Tetapi persoalan yang menonjol dewasa ini menurut Nur Syam (2006:205) adalah “keinginan menjadi dominan” dan “kurang menghargai lainnya” yang seringkali memicu ketegangan dari kelompok resisten yang merasa didominasi oleh lainnya. Akikabatnya muncul berbagai tragedi yang menimpa anak bangsa yang sangat memilukan.

Untuk mencegah sikap mendominasi terhadap orang lain dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maka salah satunya digagasi tentang pendidikan multikultural. Karena itu dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional pada pasal tiga dan empat mengamanatkan kepada kita untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak, memiliki kecakapan hidup dan demokratis. Kemudian pendidikan harus diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Namun kenyataannya perkembangan pendidikan multikultural di sekolah belum dapat dilakukan secara maksimal, menurut Muhammad Isnaini (2019:20) konsep pendidikan multicultural memang sempat menghangat di mass media dan banyak menjadi bahan diskusi di sejumlah forum, tapi sayangnya tidak diikuti dengan sejumlah upaya secara sungguh-sungguh dan kontinue untuk mempormulasikannya kedalam gagasan yang lebih aflikatif. khususnya ditingkat sekolah sampai saat ini belum berjalan secara maksimal, hal ini disebabkan oleh kurangnya kerja sama dan komitmen bersama dalam mentransformasi pendidikan untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa ini.

Oleh sebab itu, dalam penulisan karya tulis ini penulis melakukan kajian terhadap pendekatan kokreasi yang mungkin dapat dijadikan sebagai salah satu solusi dalam pengembangan pendidikan multicultural disekolah. I Gede Raka dan Kawan-kawan (2010:93) berpandangan bahwa pendekatan kokreasi dalam  sebuah lembaga pendidikan dimaksudkan untuk menanamkan kebersamaan, komitmen atau keinginan bersama untuk perbaikan suasana.

Untuk itu dalam penulisan karya tulis ini penulis  mengemukakan judul “Penerapan Pendekatan Kokreasi Dalam Pengembangan Pendidikan Multikultural di Sekolah”.

  1. Rumusan Masalah dan Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dikemukakan disini adalah : Bagaiman langka-langkah penerapan pendekatan kokreasi dalam pengembagan pendidikan multicultural di sekolah.

Sedangkan tujuan dari penulisan karya tulis ini untk mendeskrifsikan langka-langkah penerapan pendekatan kokreasi dalam pengembagan pendidikan multicultural di sekolah.    

  1. Pembahasan
  1. Pendekatan Kokreasi
  1. Pengertian Pendekatan

Novan Ardy Wiyani (2013) menjelaskan secara bahasa pendekatan mempunyai arti “proses, cara dan perbuatan mendekati. Sedangkan pengertian pendekatan secara istilah yakni, pendekatan dapat diartikan sebagai pandangan falsafi tentang subject matter yang digunakan untuk mencapai tujuan.

Syaiful Bahri Djamarah (2006:53) menjelaskan bahwa “pendekatan adalah sebuah proses yang di gunakan untuk memahami sebuah masalah dari suatu bidang ilmu, idiologi, agama dan lain sebagainya. Sedangkan  Pendekatan menurut Umar Hamalik ” cara atau prosedur mendekati persoalan, suatu cara pendekatan mengandung pengertian dari sudut mana suatu masalah ditinjau.

Dedi Yulianto (2019) mengatakan bahwa istilah pendekatan berasal dari bahasa Inggris “approach” yang salah satu artinya adalah “pendekatan”. Dalam pengajaran, approach diartikan sebagai a way of beginning something ‘cara memulai sesuatu’. Karena itu, pengertian pendekatan dapat diartikan cara memulai sesuatu.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendekatan merupakan cara pandang untuk memahami sebuah masalah dari suatu bidang ilmu, kemudian menggunakan cara atau prosedur untuk memulai sesuatu dalam mencapai tujuan.

  1. Pengertian Kokreasi

Rosa Sekar Mangalandum (2013) Mengatakan bahwa kokreasi adalah sebuah jalinan kemitraan yang berujung pada kerja sama intensif antara perusahaan dengan komunitasnya yang berefek positif terhadap keberhasilan lembaga/perusahan. Hal ini berlaku bukan hanya dengan kelompok komunitasnya, melainkan juga karyawan. Selanjutnya menurut Rosa jika kerja sama diintensifkan dan diarahkan pada produksi hal baru melibatkan perusahaan dan komunitas maka produksi semakin meningkat yang berefek cash flow. Inilah yang diistilahkan sebagai kokreasi. Kokreasi yang sukses tidak harus diawali perusahan, tetapi juga dari komunitasnya”. misalnya disebuah perusahaan media, para karyawan membentuk komunitas fotografi. Ternyata para fotografernya meng-update keterampilan dengan lebih cepat lewat komunitas ketimbang mengandalkan pelatihan yang diberikan perusahaan,”

Selain Rosa, I Gede Raka dan Kawan-kawan (2010:93) berpandangan bahwa pendekatan kokreasi dalam  sebuah lembaga pendidikan di maksudkan untuk menanamkan kebersamaan komitmen atau keinginan bersama untuk perbaikan suasana, proses, substansi dan cara penilaian prestasi belajar yang menjadikan lembaga pendidikan  sebagai komunitas yang lebih efektif dalam mengembangkan karakter peserta didik. Oleh sebab  itu menurut Raka dalam kaitannya dengan pengembangan tema baru dalam pendidikan di sekolah semuah pihak harus memiliki keyakinan dan kesadaran. Dengan demikian maka perlu adanya perubahan mindset dan komitmen bersama, mengembangkan gagasan bersama, perubahan dari diri sendiri serta perbaikan yang bekelanjutan.

Dua pandangan tentang kokreasi di atas, memiliki ruang lingkup yang berbeda pandangan yang pertama sebagai seorang ahli ekonomi  tentunya melihat kokreasi pada dunia perusahaan yang mengedepankan aspek kemitraan dan kerja sama dalam memproduk hal baru yang berefek cash flow. Sedangkan pandangan yang kedua sebagai seorang ahli pendidikan  melihat kokreasi  pada ruang lingkup sekolah/pendidikan, jika lembaga pendidikan akan melaksanakan tema baru dalam program pendidikan maka dibutuhkan kerjasama dan komitmen bersama untuk mencapai keberhasilan.

Dengan demikian maka pendekatan kokreasi dapat dipahami sebegai sebuah pendekatakan yang mengedepankan kerja sama dan komitmen bersama antara pihak terkait untuk memahami dan memulai suatu hal dalam mengembangkan lembaga dalam mencapai kesuksesan.

  1. Pendidikan Multikultural

Prudence Crandall tahun 1803 – 1890 seorang pakar pendidakn dari Amerika yang dikutip Ainurofiq Dawam (dalam Muhammad Asrori Ardiansyah, 2009:8) memberikan pandangannya tentang pendidikan multikultural, menurutnya pendidikan multikultural adalah pendidikan yang memperhatikan secara sungguh-sungguh terhadap latar belakang peserta didik baik dari aspek keragaman suku (etnis), ras, agama (aliran kepercayaan) dan budaya (kultur).

Selain pandangan di atas, secara lebih strategis (Ainul Yaqin, 2005:25) mengemukakan pandangannya bahwa pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada siswa seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, klas sosial, ras, kemampuan dan umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah. Selain itu dengan penerapan pendidikan multicultural maka akan terwujud tiga jenis tranformasi yaitu, trnformasi diri, tranformasi sekolah dan proses belajar mengajar serta tranformasi masyarakat.

Berdasarkan definisi tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang menawarkan satu alternatif melalui implementasi strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang terdapat dalam masyarakat, khususnya yang ada pada peserta didik seperti pluralitas etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, jender, kemampuan, umur, dan ras. Strategi pendidikan ini tidak hanya bertujuan supaya peserta didik mudah memahami pelajaran yang dipelajarinya, namun juga untuk meningkatkan kesadaran mereka agar senantiasa berperilaku humanis, pluralis, dan demokratis.

  1. Langkah- Langkah Penerapan Pendekatan Kokreasi dalam Mengembangkan Pendidikan Multikultural di Sekolah.

Dalam mengulas langka-langkah penerapan pendekatan kokreasi ini penulis membagi dalam beberapa point berdasarkan analisa terhadap konsep teoritik dan dicombine dengan pandangan penulis sebagai berikut:

  1. Perubahan mindset dan Menguatkan Keyakinan

Pada uraian sebelumnya, penulis telah menjelaskan bahwa salah satu kekurangan dalam mengimplementasi pendidikan multicultural yang lebih aplikatif disekolah disebabkan karena  kurangnya komitmen bersama dalam mentransformasi pendidikan untuk memcahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa ini. Salah satu contoh yang dikemukakan Toto Suharto dalam Muhammad Isnaini (2019:20) mengtakan bahwa materi pendidikan agama lebih terfokus pada upaya mengurusi masalah keyakinan seorang hamba dengan Tuhannya. Sebaliknya pendidikan agama kurang peduli dengan isu-isu umum semacam sikap menghargai keberagaman, wajibnya transformasi sosial, dan kepedulian terhadap sesama.

Padahal konsep pendidikan multikultural perlu dintegrasikan dalam semua mata pelajaran dengan mempertimbangkan kombinasi model yang ada, agar dapat mencakup tiga hal jenis tranformasi yaitu, trnformasi diri, tranformasi sekolah dan proses belajar mengajar serta tranformasi masyarakat. Untuk itu guru harus memiliki inovasi dalam menerapkan pendidikan mutikultural dalam pembelajaran.

I Gede Raka (2011:8) mengatakan bahwa “tema-tema baru dalam pendidikan untuk sebuah perubahan membutuhkan perubahan mindset dan menguatan keyakinan agar terdorong untuk melaksanakannya”. Jika tidak ada perubahan mindset dan penguatan keyakinan maka sangat sulit untuk melaksanakannya.

Oleh sebab itu, perlu perubahan mindset dan menguatkan keyakinan para guru untuk mengaplikasikan pendidikan multicultural disekolah secara aplikatif pada semua mata pelajaran maupun budaya sekolah. Perubahan minsed dapat didorong oleh lembaga  maupun individu pada komunitas pendikdikan tersebut. Dengan adanya perubahan mindset dan menguatkan keyakinan bahwa pendidikan multicultural merupakan sebuah kebutuhan untuk tranformasi diri, tranformasi sekolah dan proses belajar mengajar serta tranformasi masyarakat” maka para guru akan terdorong untuk melaksanakannya.

  1. Mengembangkan Gagasan Bersama

Dalam mengembangkan pendidikan multicultural di sekolah tidak dapat dilakukan secara individual, tetapi membutuhkan adanya kerja sama dan ide bersama. Ainul Yaqin (2015:26) berpandangan bahwa perlu membangun wacana pendidikan multicultural dikalangan para guru, harapannya adalah  apabila mereka mempunya wacana pendidikan multicultural yang baik maka kelak mereka tidak hanya mampu membangun kecakapan dan keahlian peserta didik terhadap mata pelajaran yang diajarkannya. Akan tetapi mereka mampu menjadi taransformator terhadap pendidikan multicultural yang menanamkan nilai-nilai demokrasi, pluralisme dan humanisme di sekolah.

Oleh sebab itu menurut penulis dalam penyusunan program sekolah harus melibatkan guru, perwakilan peserta didik dan tenaga kependidikan lainnya, agar dalam merumuskan ide bersama di tingkat sekolah, semua pihak dipelakukan sebagai subjek subjek bukan subjek dan objek artinya semua pihak punya ide bersama dan bertanggungjawab secara bersama dalam melaksanakan pendidikan multicultural disekolah.

  1. Perubahan Dari Diri Sendiri

Pendekatan kokreasi dalam mengembangkan pendidikan multicultural disekolah sangat mengutamakanketeladanan. Kepala sekolah dan guru harus memiliki keteladanan, artinya ketika kepala sekolah dan gurumengembangkan pendidikan multicultural dalam pembelajaran dan budaya sekolah maka hal itu tentunya di awali dengan keteladanan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah dan guru.

Jamal Maruf Asmani(2011:68) mengatakan bahwa “keteladanan menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya pendidikan”. Dengan demikian guru dan kepala madrsah sebagai tumpuan, artinya guru maupun kepala sekolah tidak mengajarkan apa yang ia tau tetapi mengajarkan siapa mereka.

Ketika guru dan kepala sekolah menginginkan peserta didik memiliki sikap demokrasi danhumanis, maka kepala sekolah dan gurulah melakukan hal itu. Gede Raka (2010:101) mengatakan bahwa “perbuatan atau tingkah laku membawa pesan dan gema yang jauh lebih jelas dan kuat dari pada kata-kata”.

Oleh karena keteladanan tidak hanya sebatas slogan, satu kata antara perkataan dan perbuatan menjadi sesuatu yang mustahil terlihat kalau sebagai orang dewasa tak mampu memberikan keteladanan yang baik. Karena urgensi guru dan kepala sekolah harus mengantarkan peserta didik menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas otak, tetapi juga watak. Karena itu Guru dan kepala sekolah dapat memulai dari diri sendiri.

  1. Perbaikan yang bekelanjutan

Pada aspek ini pendekatan kokreasi memberi ruang bagi kepala sekolah dan guru untuk terus melakuakn refleksi (evaluasi diri secara terus menerus, artinya pendekatan kokreasi mendorong kepala sekolah dan guru secara bersama serta terus melakukan refleksi diri dan sekolah guna menciptakan lingkungan dan budaya sekolah yang baik untuk mendukung pengembangan pendidikan multicultural di sekolah secara berkelanjutan.

Pada tahap evaluasi, dilakukan penilaian yang terintergrasi yang sengaja dirancang dan dilaksanakan untuk mdeteksi  aktualisasi nilai-nilai multicultural dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa Pendekatan Kokreasi itu berhasil dengan baik. Perbaikan berkelanjutan merupakan prasyaratbagi tercapai tujuan perubahan yang diharapkan, kata Raka “pendekatan kokreasi didasarkan pada pandangan bahwa tidak ada hasil yang baik bisa dicapai secara berkelanjutan apabila tidak didasarkan pada proses yang baik.           

  1. Penutup

Kesimpulan

Berdasarkan paparan diatas, maka penulis dapat  menyimpulkan bahwa pendekatan kokreasi merupakan salah satu pendekatan yang evektif dapat digunakan dalam mengembangkan pendidikan multicultural di sekolah. Karena pendekatakan kokreasi mengedepankan kerja sama dan komitmen bersama antara pihak terkait untuk memahami dan memulai suatu hal yang dimulai dengan perubahan mindset dan menguatkan keyakinan agar muncul kesadaran serta terdorong untuk melakukan perbaikan. Kemudian mengembangkan gagasan bersama agar menjadi inisiatif dan tanggung jawab bersama, selanjutnya melakukan perubahan dari diri sendiri dan yang terakhir adalah selalu ada perbaikan yang berkelanjutan untuk mencapai hasil yang lebih baik.

DAFTAR  PUSTAKA

Ainurrofiq Dawam, Emoh Sekolah, Yogyakarta: Inspealahimas Karya Press, 2003.

Dedi Yulianto, (2019)  PENGERTIAN PENDEKATAN, STRATEGI, METODE, TEKNIK, TAKTIK DAN MODEL PEMBELAJARAN tersedia https://www.slideshare.net/dediyulianto370/pengertian-pendekatan Akses 25 Agustus 2019

Hendropuspito, (1998) Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius

I Gede Raka, (2010). Pendidikan Karakter di Sekolah Dari Gagasan Ke Tindakan. Jakarta:PT Eleks Media Komputindo.

M. Ainul Yaqin (2005), Pendidikan Multikutural Untuk Demokrasi dan Keadilan, Joja: Pilar Media.

Muhammad Isnaini, Konsep Pendidikan Multikultural Dalam Merespon Tantangan Globalisasi Analisis Pemikiran Har. Tilaar tersedia https://sumsel.kemenag.go.id/files/sumsel/file/dokumen/KONSEPPENDIDIKANMULTIKULTURAL.Pdf.  Akses25 Agustus 2019

Nur Syam (2006:205), Mazhab-Mazhab Antropologi, Surabaya: LKIS

Okta Hadi Nurcahyono, (2018) Pendidikan Multikultural Di Indonesia:   Analisis Sinkronis Dan Diakronis Habitus, tersedia pada http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/Ijtimaia/article/view/4295  Akses 25 Agustus 2019

Novan Ardy Wiyani, (2016) Pengertian Pendekatan tersedia pada https://www.materibelajar.id/2016/06/5-pengertian-pendekatan-pembelajaran.html 25 Agustus 2019

Rosa Sekar Mangalandum (2013) Kokreasi Untungkan Perusahaan, Komunitas, dan Masyarakat tersedia https://swa.co.id/swa/trends/management/kokreasi-untungkan-perusahaan-komunitas-dan-masyarakat Akses 25 Agustus 2019

Syaiful Bahri Djamarah, (2006). Strategi Belajar Mengajar. Banjarmasin: Rineka Cipta.


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP